Rabu, 15 Desember 2010

obat kumur dari tanaman gambir

Obat Kumur Non alkohol dari Tanaman Gambir
Obat kumur yang mengandung kadar alkohol cukup tinggi berpotensi menyebabkan kanker mulut. Karenanya para peneliti mencoba membuat obat kumur berbahan tanaman gambir yang tidak mengandung alkohol. Zaman dulu masyarakat Asia Tenggara memiliki satu kebiasaan khas, yakni menginang. Kebiasaan mengunyah campuran daun sirih, pinang, kapur, gambir, dan tembakau itu kini memang sudah ditinggalkan. Kalaupun kebiasaan itu masih ada, hanya segelintir orang tua yang melakukannya.
Hilangnya tradisi itu sebenarnya parut disayangkan, pasalnya berdasarkan pengalaman empiris masyarakat, menginang bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa manfaat tersebut antara lain menjaga kesehatan gigi dan mulut serta membersihkan saluran pencernaan. Manfaat dari menginang tersebut salah satunya didapat dari tanaman gambir (Uncariagambir Roxb). Untuk mendapatkan sari getahnya, daun tanaman gambir diekstraksi dengan cara pengepresan.
Para ilmuwan mensinyalir gambir mengandung dua komponen utama, yakni katekin dan asam katekutannat yang memunyai banyak khasiat bagi kesehatan. Beberapa manfaat yang telah teridentifikasi antara lain memiliki daya astringensi (kemampuan untuk bereaksi dan berikatan dengan protein pada mucus dan sel epitel mukosa), anribakteri, anti-oksidan, memunyai sifat-sifat farmakologis atau mengobati pengaruh bahan-bahan kimia yang merugikan. Oleh karena itu, tidak heran apabila gambir banyak digunakan di berbagai bidang industri, seperti obat-obatan dan farmasi. Kendati demikian, menurut Amos Lukas, peneliti gambir dari Pusat Tengkajian Teknologi Agroindustri, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pengeksplora-sian tentang manfaat gambir masih belum optimal. Padahal, gambir sebagai salah satu komoditas unggulan asal Indonesia justru banyak diekspor ke negara lain.


Berdasarkan laporan yang pernah dilansir Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Indonesia selama ini mampu memasok kebutuhan gambir dunia hingga 90 persen. Dalam kurun 2002 sampai 2005, volume ekspor gambir mencapai 14.704 ton. "Sayang, selama ini eksporgambir ke negara lain masih berupa barang mentah atau setengah jadi sehingga nilai komersial yang diperoleh Indonesia masih sangat minim," kata Amos.
Dia menambahkan India merupakan pasar impor gambir terbesar dari Indonesia. Sementara China dan Jepang merupakan pasar impor terselubung. Negara-negara pengimpor itu memanfaatkan gambir untuk berbagai keper-luan. Di India, misalnya, gambir banyak dimanfaatkan sebagai ba-han pasta gigi dan obat kumur. Berbeda halnya dengan China dan Jepang, gambir diolah menjadi pil atau permen yang bermanfaat bagi kesehatan mulut dan gigi serta pencernaan.
Di Indonesia, para ilmuwan dari BPPT sebenarnya juga telah me-neliti serta mengembangkan gambir untuk diolah lebih lanjut menjadi pil kesehatan, pasta gigi, dan obat kumur. Namun, menurut Amos, dari beberapa produk itu, obat kumur merupakan produk yang paling siap diluncurkan ke pasaran.
Selama ini, obat kumur yang diolah dari tanaman gambir yang beredar di pasaran masih mengandung kadar alkohol cukup tinggi. Hal itu menyebabkan sebagian konsumen merasa kurang nyaman saat berkumur. Selain itu, penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol sebanyak 25 persen atau lebih disinyalir bisa meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, dan taring.
Berdasarkan alasan itu Amos berpendapat peluang pengeksplorasian manfaat gambir tanpa alkohol sangat besar. Dia pun memfokuskan diri untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi gambir terbaik dalam obat kumur sehingga memiliki karakteristik yang disukai konsumen. "Obat kumur ini sekaligus diharapkan dapat menjadi pengganti kebiasaan menginang yang sudah dianggap ketinggalan zaman," kata Amos.

Proses Pengolahan
Lebih lanjut, Amos menerang-kan bahan yang digunakan dalam pembuatan obat kumur ialah gambir blok dari Sumatra Selatan, sakarin, dan pepper-mint oil. Pemilihan gambir terbaik untuk obat kumur didasarkan pada kemampuan tanaman itu dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus muians melalui pengujian aktivitas anti-bakteri.
Berdasarkan hasil penelitian aktivitas .inti bakterinya, tambah Amos, jenis gambir yang terbaik ialah gambir dengan kandungan katekin yang rendah, yakni 25 sampai 35 persen dan ta-nin sebesar 60 sampai 65 persen. Jenis gambir yang memiliki katekin rendah mampu menghambat pertumbuhan bakteri rata-rata sebanyak 41,77 persen.
Sementara itu dari sisi visualisasi, obat kumur yang paling baik ialah obat yang memiliki konsentrasi gambir sebesar satu persen. Dalam konsentrasi tersebut obat kumur terlihat cukup jernih. Apabila konsentrasi gambir mencapai lebih dari satu persen, akan muncul aroma khas gambir dan obat kumur mulai terasa pahit. Sedang-kan rasa kelat (sepat) mulai muncul pada konsentrasi tiga persen.
Dengan mengunakan konsentrasi gambir satu persen, obat kumur gambir memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 4,14 persen. Semakin tinggi konsentrasi gambir maka pH obat kumur gambir cenderung semakin tinggi. Variasi konsentrasi gambir berpengaruh nyata terhadap nilai pH (p 0,05).
Sementara itu, nilai viskositas atau kekentalan obat kumur gambir dengan kadar satu persen men-capai 2,75 cP. Semakin tinggi konsentrasi gambir dalam obat kumur maka semakin tinggi pula visko-sitasnya. "Ciri khas dari obat kumur tanpa alkohol yang dikembangkan BPPT ini lebih encer dari produk yang ada di pasaran," ujar Amos.
Produk yang dikembangkan BPPT itu juga mengandung total mikroba nol koloni per mili-liter selama dalam masa penyimpanan. Selama masa penyimpanan, nilai pH obat kumur gambir cenderung semakin turun. Sedangkan viskositas obat kumur gambir semakin tinggi.
Kelebihan lain dari obat kumur gambir ialah tidak membahayakan, sistem pencernaan seandainya tanpa sengaja obat tersebut tertelan. Menurut Amos, justru obat kumur yang tertelan akan turut membersihkan balcteri-bakteri merugikan di dalam sistem pencernaan manusia. Hal tersebut bukan sekadar teori, pasalnya selama ini berdasarkan pengalaman empiris obat kumur gambir dapat memberikan rasa nyaman di dalam tenggorokan dan perut.